LIFE TO MEKAH ARAB SAUDI

INFO BUDAYA INDONESIA

21.9.11

MENGENAL TOKOH KETHOPRAK

Ketoprak dan Metamorfosis Kesenian



ketoprak humor adalah sitkom yang dipadukan dengan kebudayaan asal jawa yaitu Ketoprak. ketoprak humor ditayangkan oleh RCTI.  ketoprak humor dibintangi oleh Timbul, Tessy, dan pelawak srimulat yang lainnya. Itulah sitkom yang pernah populer di Indonesia dan sekarang sudah berhenti tayang. semoga salah satunya bisa kembali tayang lagi dengan episode-episode baru tentunya.




Gubernur Jatim Sukarwo(kanan) saat tampil sebagai Adipati Lamongan dalam Pagelaran Ketoprak Guyonan Campur Tokoh Puspo Budoyo dengan Lakon

Ide awalnya datang dari Luluk Sumiarso, staf ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pembina Paguyuban Ketoprak Puspo Budoyo ini menilai pementasan ketoprak yang patuh pada pakemnya tidak akan mampu menarik perhatian masyarakat. Hal ini akan berujung pada kepunahan seni pertunjukan yang sempat sangat populer di Jawa Tengah-Jawa Timur itu.


Ketoprak: Para pemain Ketoprak Guyonan Campur Tokoh
Luluk mengatakan, pada 2006, eksistensi ketoprak mulai terancam setelah Ketoprak Humor yang ditayangkan sebuah televisi swasta berhenti tayang. Terhentinya kontrak pertunjukan yang sempat booming itu, tak ayal membuat seniman-seniman ketoprak kelimpungan karena kehilangan pekerjaan. Asap dapur mereka bergantung pada pentas ketoprak di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) sekali sepekan. Penontonnya pun tak seberapa banyak.

Dirut PLN Dahlan Iskan (kiri atas) saat tampil sebagai Tumenggung Danapati dalam Pagelaran Ketoprak Guyonan Campur Tokoh Puspo Budoyo dengan Lakon
"Pak Aries (Aries Mukadi) lalu mengajak Paguyuban Puspo Budoyo ikut menghidupkan kembali ketoprak. Puspo Budoyo sebelumnya lebih banyak berkiprah di seni musik tradisional Jawa," terang komisaris Pertamina ini.

Pria asal Ponorogo ini menilai perlu dibuat pentas ketoprak yang sedikit melenceng dari pakem tapi menyedot perhatian masyarakat. Pemainnya gabungan antara tokoh masyarakat dan seniman ketoprak. Agar tokoh-tokoh itu mau bermain, pakem dibuat longgar sehingga pemainnya bisa berimprovisasi. Karena tokohnya dari berbagai daerah, pementasan ketoprak itu menggunakan bahasa Indonesia.

"Konsep itu lantas saya matangkan dengan seniman ketoprak senior Aries Mukadi. Jadilah, Ketoprak Guyonan Campur Tokoh," ujar mantan Dirjen Migas ini kepada Jawa Pos, di GKJ, Jumat (7/5) lalu.

Setelah konsep matang, pada Mei 2006, pergelaran Ketoprak Guyonan Campur Tokoh untuk kali pertama dipentaskan. Mementaskan lakon Warok Suromenggolo, pergelaran itu diramaikan mantan Menteri Perhubungan Agum Gumelar dan artis Ratna Listy. "Agar menarik perhatian, pentas itu sengaja kami beri judul Suminten (Ratna Listy) Edan. Sejak itu atensi masyarakat sangat positif, bahkan bisa dibilang meledak," cetusnya.

Semenjak itu, pergelaran Ketoprak Guyonan Campur Tokoh rutin dipentaskan setiap dua bulan di GKJ di kawasan Senen dan Taman Ismail Marzuki (TIM) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Setelah pementasan pertama sukses, tokoh-tokoh masyarakat yang bersedia ikut bermain pun mulai berdatangan. Mendiknas Muhammad Nuh, mantan Jaksa Agung Marzuki Darusman, Yenny Wahid, mantan Deputi Senior Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, serta mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie pun pernah bermain ketoprak.


 

Posts Tagged ‘ketoprak’

PENTAS KETHOPRAK

28 April 2011 | Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta
Kethoprak Ikon Jogja 2011mempersembahkan Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong dengan judul “Sinuwun Pungkasan”
Diilhami Otobiografi Kaisar Pu Yi
Pementasan akan dilaksanakan pada hari : Kamis (28 April 2011) pukul 20.00 WIB di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta 
Pemain :
Marwoto “Kawer”, Drs. Susilo Nugroho “Nen Baguse Ngarsa”, Yuningsih “Yu Beruk”, Sudiharjo “Sranta”, Nano Asmorodono, Rini Widyastuti, Sarjana “RRI”, Bayu “Gito Gati”, Oky Surya Ikawati, S.sn., Novi “Kalur”, Bagong Trisgunanto, Sanggit Gandang Pradipta

ketoprak asbanda


JAKARTA, 4/11 - KETOPRAK ASBANDA. Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Winny Erwindia (2 kiri) yang melakonkan tokoh Dyah Gayatri mendaulat Tribuwana Tunggadewi menjadi Ratu Majapahit pada pertunjukan kesenian ketoprak berjudul Sumpah Palapa yang dimainkan 11 direktur utama dari sejumlah bank pembangunan daerah, di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (4/11). Bersamaan dengan pertunjukan itu, Asbanda juga berkomitmen untuk bersama melakukan promosi BPDNet Online. FOTO ANTARA/Paramayuda/ama/11
Berbagai pentas serta serba serbi kesenian ketoprak sekarang banyak memberikan variasi terhadap kesenian yang ada di Indonesia



Gubernur Jatim Sukarwo(kanan) saat tampil sebagai Adipati Lamongan dalam Pagelaran Ketoprak Guyonan Campur Tokoh Puspo Budoyo dengan Lakon "Merah Putih Mencegah Perang" yang diambil dari Serial Nagasasra Sabuk Inten.Acara berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta Jumat 7 Mei 2010. Foto: Adrianto/Indopos
(5
Ketoprak: Para pemain Ketoprak Guyonan Campur Tokoh Dirut PLN Dahlan Iskan (kiri atas) saat tampil sebagai Tumenggung Danapati dalam Pagelaran Ketoprak Guyonan Campur Tokoh Puspo Budoyo dengan Lakon Ketoprak: Para pemain Ketoprak Guyonan Campur Tokoh Presiden SBY nampak turut menyaksikan Pagelaran Ketoprak Guyonan Campur Tokoh Puspo Budoyo dengan Lakon Gubernur Jatim Sukarwo(kanan) saat tampil sebagai Adipati Lamongan dalam Pagelaran Ketoprak Guyonan Campur Tokoh Puspo Budoyo dengan Lakon Gubernur Jatim Sukarwo(kanan) saat tampil sebagai Adipati Lamongan dalam Pagelaran Ketoprak Guyonan Campur Tokoh Puspo Budoyo dengan Lakon
SEPERTI seni pertunjukan tradisional lain, ketoprak mulai kalah oleh budaya kontemporer. Beruntung masih ada seniman yang berupaya nguri-uri (melestarikan) ketoprak. Untuk menambah gaung, mereka menggandeng sejumlah petinggi negara dan bos-bos perusahaan untuk ikut bermain ketoprak.

JAKARTA, 12/2 - KETOPRAK GUYONAN. Sejumlah pemain ketoprak Puspo Budoyo beraksi dalam pertunjukan bertajuk Kabut di Banyubiru di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (12/2). Sejumlah tokoh dari berbagai elemen seperti pekerja pers, akademisi, hingga pelaku bisnis turut berperan sebagai pemain dalam pertunjukan tersebut. FOTO ANTARA




Direksi BPD se Indonesia Terlibat Main Ketoprak


Direksi BPD se Indonesia Terlibat Main Ketoprak
TRIBUNNEWS.COM/ BUDI PRASETYO
Dalam kesempatan Promosi Bersama BPDNet Online, Jumat Malam (4/11/2011) di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jajaran Direksi BPD Se Indonesia menampilkan sajian pagelarn ketoprak Tradisi Aghi Daya, Tampak nomor dua dari kanan Ketua Umum Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) Winny Erwinda ikut serta terlibat dalam pagelarn. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –Selama ini dalam melakukan peluncuran produk baru dari suatu bank , selalu ditandai dengan kegiatan upacara seremonial. Namun kali ini ada yang berbeda dalam peluncuran bersama produk BPD Net Online yang saat iini diikuti sekitar 22 Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Indonesia.
Peluncuran bersama BPD Net Online yang dimotori Asosiasi Bank Pembagunan Daerah (Asbanda), Jumat malam (4/11/2011)justru ditandai dengan pementasan Pagelaran Ketoprak Tradisi Adhi Budaya . Pementasan ketoprak ini dilakukan kurang lebih memakan waktu hampir dua jam , dimulai sejak pukul 18.30 WIB , bertempat di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).
Para pemain antara lain terdiri dari Ketua Asbanda Winny Erwinda, Direktur Utama Bank DKI EKo Budiwiyono, Dirirektur BPD NTB, BPD Jatim, didampingi pemain ketoprak sesungguhnya Eko DJ, Misye Arsita.
Pentas ketoprak yang kali ini mayoritas pemainnya datang dari jajaran direksi BPD se Indonesia mengambil tema cerita “ Sumpah Palapa Gajahmada “ . Dalam peran ini Ketua Asbanda Winny Erwinda tampil sebagai Ratu Gayatri Rajapadni dan Direktur Utama Bank DKI tampil sebagai Mahapatih Arya Tadah.
Sementara peran direksi BPD lainnya ada yang tampil sebagai bre Singosari kertawardhana, Tumenggung Vayuhandaka,Ratu Prabasari, Kebolehan tampilan dari para direksi ini cukup meyakinkan, meski terlihat masih agak kaku sedikit, namun sempat menghibur para tamu dan karyawan dari BPD yang hadir di Gedung Kesenian Jakarta.
 KETOPRAK DI DAERAH
 
Keterdesakan ketoprak dari ranah hiburan sehari-hari telah bergema di hampir seluruh wilayah kultural kebudayaan Jawa. Ada yang menyebutnya sebagai masa senja kala dalam perjalanan kehidupannya. Dan lebih ekstrem lagi, ada yang menilainya di ambang kepunahan. Namun, kondisi anomali justru terjadi di Pati. Konon, hingga kini masyarakat di sana masih menunjukkan sikap apresiasi yang tak mati-mati. Wartawan Suara Merdeka Jokomono melaporkan dalam beberapa tulisan berikut.
KELANGSUNGAN hidup ketoprak di Pati menunjukkan raut dinamika nan energik. Di wilayah Bumi Mina Tani itu, menurut data Dinas Pendidikan setempat pada 2007, sedikitnya terdapat 35 grup. Besaran angka ini sangat mungkin masih dapat membengkak di lapangan.
Dari jumlah tersebut, 10 di antaranya berada dalam kriteria laris tanggapan. Yaitu Siswo Budoyo (Desa Growong Lor, Kecamatan Juwana), Cahyo Mudho (Bakaran Kulon, Juwana), Langen Marsudi Rini (Growong Kidul, Juwana), Wahyu Budoyo (Ngagel, Dukuhsekti).

KETOPRAK HUMOR

Pelajaran Melawak dari Pentas Reuni Ketoprak Humor
Gelak tawa tak henti-henti terdengar di Gedung Kesenian Jakarta, Senin (21/3/2011) malam. Ketoprak Humor mengocok perut ratusan penggemarnya lewat sebuah pentas reuni yang guyup, nostalgis dan haru.


Kelucuan tak disengaja dalam pertunjukan perdana antara Kemenbudpar dengan Adhi Budaya dalama rangka membangun karakter bangsa ini pun muncul. Bagaimana tidak, pejabat eselon 1 seperti Direktur Jendreal Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF), Tjetjep Suparman yang pendiam dan berasal dari Jawa Barat harus beradu peran dengan para pemain yang kebanyakan orang Jawa. Dan ketika sejumlah pemain berdialog dengan Bahasa Jawa, Tjetjep yang tidak paham hanya terbengong menengok ke kiri dan kanan hingga menjadi bahan guyonan pemain lainya. Tak ayal, penonton yang memenuhi GKJ tertawa melihat kelucuan natural itu.

Pentas Seni Ketoprak Kolosal

Berbagai unsur eleman masyarakat DIY akan terlibat dalam pertunjukan ketroprak kolosal Panca Mahardika yang mengambil lakon Bumi Perdikan pada 5 Juni 2011 mendatang di Taman Budaya Yogyakarta. Ketoprak yang melibatkan lebih dari 100 orang pemain ini akan menyuguhkan pluralisme dan sekaligus memberi dukungan terhadap Keistimewaan Yogyakarta.
“Untuk kali pertama terjadi sebuah pertunjukan kethoprak dimainkan secara kolosal dan melibatkan berbagai unsur warga DIY. Kolosal karena melibatkan lebih dari 100 pemain dan pengrawit. Berbagai unsur mengingat yang terlibat tak hanya para pemain kethoprak yang telah kita kenal seperti Marwoto, Den Baguse Ngarso, namun juga melibatkan para lurah, walikota Yogya, Danrem Yogya, aparat TNI/Polri, para pengusaha , Kejari, wakil bupati Sleman, anggota dewan, kiai Muhaimin dan tokoh serta warga DIY lainnya” ujar Pimpinan Produksi Pementasan Ketoprak Kolosal, Prof.Dr.dr. Sutaryo saat ditemui di nDalem Benawan Jalan Rotowijayan 24 Yogyakarta, Kamis (19/5)
Sutaryo mengatakan yang perlu digarisbawahi, mereka semua ketika ikut bermain menanggalkan baju identitas mereka. Semua hanya menyandang satu identitas, yakni sebagai warga DIY yang kompak, menyatu untuk sama-sama nyengkuyung DIY adalah basis kebudayaan yang tak akan meninggalkan seni tradisi.
Bertindak sebagai sutradara sekaligus pembuat naskah adalah Nano Asmorodono. Tim artistik dipimpin Ong Harry Wahyu.Sementara penata musik diantaranya melibatkan Hadi OT, Warsono Kliwir, Benyek, Encik .
“Semua ini dibawah bendera komunitas Panca Mahardhika. Pementasan ini didukung penuh atas sponsor utama Bakso Lapangan Tembak Senayan, Sido Muncul, Bakpia Djava, Raminten, Gembiro Loka dan instansi lainnya” imbuhnya.
Lebih lanjut dikatakanya mengingat pentas ini adalah dari dan untuk warga DIY, maka diharapkan masyarakat DIY berduyun-duyun menonton. Adapun harga tiket hanya Rp 25 ribu untuk kelas VIP dan Rp 15 ribu untuk kelas festival. Namun ada pula undangan VVIP yang dijual seharga Rp 250 ribu. Tiket untuk sementara dapat dibeli di ndalem Benawan Jalan Rotowijayan 24 serta Bias Adv di Jalan Kabupaten Sleman.
“Semua hasil penjualan tiket akan kami serahkan ke bapak Herry Zudianto yang kami pandang sebagai sosok wali kebudayaan. Dana ini nantinya bisa dipakai untuk mendukung kegiatan seni lainnya,” pungkasnya.

 

TBY Gelar Festival Kethoprak Se-DIY


Jogja - Ketoprak Mataram merupakan salah satu bentuk kesenian tradisi yang masuk dalam kategori teater tradisi yang mempunyai kedekatan dengan masyarakat pendukungnya. Mataram adalah sebutan sebuah kota kerajaan yang ada di Yogyakarta, yang di dalamnya hidup berbagai macam bentuk kesenian salah satunya adalah ketoprak.
Sebagai bentuk pelestarian terhadap ketoprak, sekaligus mengangkat ikon seni budaya Yogyakarta yang mencitrakan diri sebagai seni budaya Mataram,Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bekerjasama dengan kabupaten dan kota Yogyakarta akan menggelar Festival Ketoprak Mataram antar kabupaten/kota se-DIY, 17-19 Desember 2010 di Gedung Sositet Militer Kompleks Taman Budaya Yogyakarta, Jl Sriwedani No 1 Yogyakarta.
Menurut Ketua Panitia Festival Ketoprak 2010, Wasdiyanta, ketoprak mataram merupakan kesenian tradisi yang sangat konsisten di dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi yang menyangkut tata nilai, norma, etika dan estetika yang merupakan roh kehidupan masyarakat. Di samping itu juga adat istiadat, bahasa, dan kejiwaan masyarakat Yogyakarta yang masih memegang teguh terhadap adat ketimuran. Adapun unsur seni tradisi yang tidak bisa terlepas dari perkembangan ketoprak Mataram diantaranya : Ontowecono, unggah-ungguh, tembang, keprak dan iringan. 

FESTIVAL KETOPRAK ANTAR KECAMATAN 

 
Kabupaten Bantul boleh berbangga karena di dalamnya terdapat banyak kesenian tradisional maupun modern. Pendeknya, kehidupan berkesenian di kabupaten ini mendapatkan perhatian dan dukungan yang sangat memadai. Di kabupaten ini ada ratusan dalang, ratusan grup kesenian, ratusan atau bahkan ribuan seniman (tari, lukis, grafis, kriya, ketoprak, wayang orang, langen mandrawanara, pengrawit, sinden, jatilan, rodat, gendring, shalawat, nini thowong, dan sebagainya). Selain itu di kabupaten ini juga terdapat banyak kantung budaya seperti Kampus ISI, Rumah Budaya Tembi, Tembi Contemporary, Galeri Sangkring, Padepokan Bagong Kussudiardjo, SMKI, dan sebagainya. Termasuk juga terdapat begitu banyak pengrajin dan pusat-pusat kerajinan di wilayah ini. Kesemuanya itu tidak bisa dipungkiri telah ikut membentuk karakter atau jati diri masyarakat Bantul. 



Jakarta, 04 November 2011, Bertempat di Gedung Kesenian Jakarta, Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) berkomitmen untuk melakukan Promosi Bersama BPDNet Online. BPD Net Online diperkenalkan pertama kali pada 18 Mei 2007  di Makasar dan tahap awal diikuti oleh 13 BPD kemudian pada tahun 2008 berkembang menjadi 19 BPD. Kini, peserta BPDNet Online meningkat menjadi 22 BPD dengan dua fitur yakni pelayanan penyetoran dan penarikan tunai melalui teller antar BPD hingga Rp 100 juta. Seiring perkembangan industri perbankan yang makin kompetitif maka fitur pelayanan akan ditambah hingga 18 fitur secara bertahap, yang dapat dilayani di seluruh BPD dari Aceh sampai Papua.

PROPOSAL PERGELARAN & RESERVASI

PROPOSAL PERGELARAN & RESERVASIA. SEKILAS

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Wilayah yang luas dengan berbagai suku didalamnya membuat munculnya keragaman budaya di tanah air. Tak disangsikan lagi jika setiap daerah memiliki kebudayaan dengan kekhasan masing-masing. Sebagai perwujudan kepedulian akan budaya bangsa Indonesia yang saat ini terkikis oleh masuknya budaya modern, maka dengan ini kami akan mengemas salah satu format  seni pertunjukkan yang dikenal dengan program acara televisi “Ketoprak Humor” dalam satu wadah komunikasi yang efektif sehingga program acara yang akan dipertunjukkan dapat bermanfaat sebagai media pembawa pesan-pesan untuk kesejahteraan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan tanpa harus kehilangan fungsinya sebagai media hiburan.

Konsep program yang akan disajikan adalah sebuah pertunjukkan yang membawakan cerita melalui kesenian ketoprak, dimana ceritanya disesuaikan dengan visi dan misi setiap daerah kabupaten /kotamadya namun tetap berpedoman pada kaidah – kaidah pergelaran ketoprak yang semestinya agar tidak menyimpang/keluar dari benang merah cerita.

Kesenian Ketoprak adalah seni pertunjukkan yang mempergelarkan suatu cerita sejarah / legenda rakyat yang dapat dikemas dalan suatu bentuk pesan mensosialisasikan bagi program-program pemerintah yang akan menjadi visi dan misi menjalankan pemerintahannya dengan tidak keluar dari benang merah cerita. Dengan penyampaian pesan yang melibatkan para petinggi daerah setempat sebagai salah satu pemainnya dengan membawakan cerita rakyat yang berasal dari daerah tersebut, maka tingkat pendekatan pada rakyat terhadap program-program kerja pemerintahan akan mendapat nilai positif dan edukatif.


Kethoprak Mahasiswa 

dengan judul “Mardhika Jawa Dwipa”

Ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata.
Menurut sejarah kethoprak lahir pada tahun 1887. Pada awalnya Ketoprak hanya berwujud permainan bagi para lelaki didesa sebagai hiburan sambil menabuh “lesung” (alat yang sebenarnya berfungsi sebagai alat/tempat untuk menumbuk gabah/padi supaya menjadi beras) pada saat bulan purnama. Hal ini sering juga disebut sebagai “gejog lesung”. Namun semakin lama ketoprak semakin digemari oleh banyak orang. Dan karena kebiasaan akhirnya ketoprak mampu dijadikan sebagai salah satu budaya masyarakat, dan bisa bersinergi dengan kesenian yang lainnyaDisebabkan pada awalnya hanya diiringi oleh alat ‘tetabuhan lesung’ ketoprak dulunya juga sering disebut “gejog lesung”.  Seiring dengan keadaan berjalan selanjutnya ada tambahan alat musik lainnya seperti kendang, terbang dan suling.  Pada tahun 1909 pertunjukan kethoprak sudah mulai berkembang seperti yang bisa kita saksikan sampai sekarang. Kethoprak mahasiswa diharap mampu mendedah, membedah, mengkaji, merekontruksi, menyajikan, dan ‘mendefinisikan ulang’ nilai-nilai yang terdapat dalam legenda-legenda lokal dalam cerita-ceritera kethoprak tobong.
 

Para pemain tokoh
Rasanya lama sekali saya tidak menonton di TIM, terakhir kali saya menonton teaternya Rendra (alm), menemani ketua STSI Bandung saat itu. TIM yang terang benderang, dan warung makan yang berjejer di sebelah kiri setelah jalan masuk, sungguh menggoda iman untuk mampir sejenak. Namun kami berjalan terus, dan mendapatkan tempat parkir merupakan perjuangan sendiri. Syukurlah kami tak mampir di warung makan, ternyata setelah menyerahkan tiket, ada sajian makan lengkap, dan juga ada mie bakso……. tentu saja kan ini acara reuni.


Yang terasa berbeda pada Peringatan HUT SMA 2
Madiun kali ini dibandingan dengan peringatan HUT SMA 2 sebelumnya adalah
adanya pementasan kesenian "KETOPRAK DADAKAN". Ketoprak ini adalah hasil
kolaborasi antara guru dan siswa SMA Negeri 2 Madiun yang dimotori oleh Drs.
Soegito yang mengajar Bahasa Inggris yang sekaligus seorang dalang. Dinamakan
Ketoprak Dadakan karena di bentuk secara mendadak dengan porsi latihan yang
sedikit. Meskipun begitu hal itu tidak mempengaruhi hasil penampilan yang
terbukti sangat tidak mengecewakan. Hal ini terbukti dengan apresiasi seluruh
komponen SMA Negeri 2 Madiun juga masyarakat sekitar yang sangat antusias
menyaksikan jalannya pementasan ketoprak dadakan ini.

Selain menjadi media hiburan, pertunjukan ketoprak juga menjadi media alternatif transfer cerita sejarah kepada masyarakat. Umumnya, lakon-lakon yang dipentaskan kesenian ketoprak seputar babad, legenda maupun sejarah yang terjadi di berbagai daerah. Cerita-cerita inilah yang kemudian menjadi kokoh dalam kehidupan warga. Cerita tentang kehidupan kerajaan Majapahit, kerajaan Airlangga, kerajaan Demak, kerajaan Ngayogjokarto, tentang kepahlawanan Gajah Mada, Adipati Unus, perjuangan Walisanga, maupun kisah unik jejak kehidupan tokoh Saridin (Syeh Jangkung) dan cerita lain yang familiar dalam kehidupan warga. Dengan demikian, kesenian ketoprak menjadi media penting yang senantiasa menjadi sejarah manusia agar tetap abadi. Pada titik inilah, perjuangan penggiat seni ketoprak patut diapresiasi. Di tengah krisis kebudayaan bangsa ini, perjuangan penggiat kesenian lokal menjadi “ijtihad” penting, agar kesenian dan kekayaan budaya negeri ini menjadi identitas kemanusiaan bangsa.

Oleh : Munawir aziz
Dalam jagad kesenian negeri ini, ketoprak menjadi salah satu icon penting yang menyuguhkan lakon cerita tentang kehidupan dan sejarah kemanusiaan. Ketoprak menjadi media pertunjukan untuk mementaskan cerita dalam labirin kehidupan dan kearifan Jawa. Ketoprak menjadi media hiburan bagi warga di tengah keringnya kehidupan manusia akibat krisis yang membelit. Semacam oase yang menyejukkan kehidupan warga, media hiburan alternatif yang tetap menguarkan nilai-nilai sejarah dalam setiap fragmen, kearifan lokal dan sindiran kebudayaan yang kental. Di tengah gempuran media radio, televisi, internet dan media lainnya, Ketoprak senantiasa eksis dalam derap kehidupan warga di berbagai daerah.

Kampanye Karakter Bangsa dengan Ketopra 

Apa jadinya jika orang-orang pemerintahan bermain Ketoprak dengan sejumlah pelawak yang sudah malang-melintang di pertunjukan kesenian tradisonal Jawa ini? Yang pasti ada kelucuan yang tak dibuat-buat lantaran mereka tampil apa adanya.

Begitulah yang terjadi ketika sejumlah pejabat eselon satu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) beserta beberapa stafnya memainkan Ketoprak berlakon “Senopati Ing Alaga Mataram” bersama Himpunan Seniman Panggung Wayang Orang dan Ketoprak Adhi Budaya Jakarta di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), beberapa waktu lalu.

Akan tetapi, perjuangan pekerja seni ketoprak dalam ngugemi (menjaga) nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) dan rekaman sejarah tak sebanding dengan apresiasi yang diterima. Penggiat ketoprak senantiasa asing dari gelegar penghargaan kesenian dan kebudayaan negeri ini. Perjalanan kehidupan penggiat ketoprak senantiasa dibayangi mendung hitam, hal ini dikarenakan biaya hidup semakin tinggi dan hasil pertunjukan kesenian ketoprak semakin memprihatinkan (Sucipto HP, 2008). Padahal, besarnya insentif (upah) penggiat ketoprak ditentukan banyaknya pagelaran yang dijalani. Tanpa adanya panggilan pertunjukan, penghasilan penggiat ketoprak akan berhenti total. Inilah tragedi kehidupan pekerja kesenian negeri, di tengah agenda nasional dalam mengapresiasi khazanah kebudayaan bangsa.

Kesenian Ketoprak tumbuh di berbagai daerah di pulau Jawa. Umumnya, grup kesenian ketoptak dapat ditemukan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Solo, Jogkakarta, Semarang , Pati, Kediri dan Tulungagung menjadi lumbung grup kesenian ketoprak. Grup ketoprak di berbagai daerah ini selain pentas di tobong (arena pertunjukan) juga bermain menurut panggilan dari warga. Biasanya, panggilan pentas ketoprak diadadakan dalam rangka sedekah bumi, slametan (upacara rasa syukur atas berkah Tuhan), khitanan ataupun agenda haul tokoh desa (memberi penghormatan pada tokoh desa) dan momentum lain. Agenda-agenda inilah yang menjadikan grup ketoprak dapat “bernafas lega”.

Kerja Kreatif 
Grup kesenian ketoprak membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar senantiasa eksis dalam jagad kebudayaan bangsa. Apreasiasi inilah yang akan memperbesar pangsa pasar ketoprak di berbagai daerah. Selain itu, penggiat Ketropak dituntut untuk kreatif dalam merespons perkembangan zaman. Cerita dalam pentas ketoprak diharapkan berkelindan dengan tuntutan penonton. Akan tetapi, naskah cerita juga harus orisinil agar tak melenceng dari struktur cerita yang telah bersemayam dalam gerak kehidupan warga.

Pada titik inilah kinerja kreatif penggiat kesenian ketoprak menemukan muaranya. Untuk itu, segmentasi pasar grup ketoprak kian diperkaya berbagai macam pilihan, untuk memenuhi selera pasar. Ketoprak konvensional yang masih memenuhi paugeran (aturan) klasik, seperti urutan cerita yang harus bermula dari jejer kraton dan dialog sepenuhnya menjadi bagian improvisasi para pemain, tetap memiliki pasar tersendiri. Selain itu, grup ketoprak yang bermetamorfosis dengan perkembangan musik dan teater kontemporer, makin diminati. Grup ketoprak seperti ini, memanggungkan naskah cerita yang sesuai dengan kondisi kehidupan warga. Sindiran yang menyentil kasus korupsi, kinerja pemerintah dan kesungguhan tokoh agama kerap terselip dalam alur cerita ketoprak. Derap kreatifitas inilah yang menjadikan grup ketoprak tetap diminati warga di berbagai daerah.

Dalam penelitian tentang kehidupan grup ketoprak di Pati Jawa Tengah (Ketoprak Pati Tak Pernah Mati), oleh Sucipto Hadi Purnomo, Dosen Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Unnes Semarang, terdapat data menarik tentang gerak dinamis grup ketoprak. Di Pati, menurut Sucipto, grup ketoprak pada umumnya bukan ketoprak tobong (pentas di arena pertunjukan resmi), akan tetapi ketoprak panggilan (pentas karena ada permintaan hajatan). Ada puluhan grup ketoprak di Pati, yang tetap survive karena permintaan pasar tetap stabil. Diantaranya, Siswo Budoyo, Cahyo Mudho, Langen Marsudi Rini, Wahyu Budhoyo, Bangun Budhoyo, Ronggo Budoyo, Dwijo Gumelar, Kridho Carito, Konyik Pati, Manggala Budaya serta beberapa grup ketoprak lain.

Grup-grup ketoprak ini mementaskan berbagai macam lakon, semisal Syeh Jangkung (Andum Waris, Geger Palembang, Ontran-ontran Cirebon, Bedhahing Ngerom, Sultan Agung Tani, Lulang Kebo Landoh), Dalang Sapanyana-Yuyu Rumpung, Babad Juwana (Dewi Rara Pujiwati Gugur, Adipati Patak Warak Mbalelo, Maling Kapa Maling Gentiri), Rara Mendut-Pranacarita, Baron Sekeber-Rara Suli, Anda Rante, Mutamakkin dan lakon lainnya. Selain itu, naskah-naskah cerita kontemporer hasil gubahan kreatif sutradara ketoprak juga banyak bermunculan. Cerita-cerita kontemporer yang merespon kondisi sosial negeri ini, menjadi “jeda” agar penonton tak bosan dengan cerita konvensional.

Grup-grup ketoprak ini biasanya pentas selain bulan Sura (Muharram) dan Pasa (Ramadhan) dalam penanggalan Jawa. Pada bulan Madilawal, Madilakir, Rejeb, Ruwah, Sawal, Apit dan Besar, grup ketoprak laris tanggapan pentas seperti agenda pernikahan dan khitan. Bahkan, grup ketoprak Cahyo Mudo, pentas ratusan kali dalam setahun. Selama 2001, Cahyo Mudo pentas selama 161, pada 2002 tercatat 159 kali. Sedangkan pada tahun 2003 sebanyak 138 kali, pada 2004 terhitung 139 kali dan di tahun 2005 ada 122 kali. Pada tahun 2006 menjalani pentas sebanyak 140 kali tanggapan. Akan tetapi, tak semua grup ketoprak yang mendapat undangan pentas stabil setiap tahunnnya. Penggiat grup ketoprak kecil lebih banyak libur daripada menjalani tanggapan pentas. Hal inilah yang seharusnya mendapat perhatian tinggi dari warga negeri ini. Kesenian ketoprak hendaknya dilestarikan sebagai bagian kekayaan kebudayaan negeri ini.

Gerak kehidupan grup ketoprak yang semakin sempit, menjadi hal ironis di tengah agenda kebudayaan bangsa. Warga negeri ini, hendaknya mengapreasiasi grup ketoprak sebagai bagian penting khazanah kebudayaan bangsa. Warga sebaiknya tidak hanya memberikan penghargaan atas perjuangan penggiat ketoprak, akan tetapi undangan pentas lebih berarti daripada sekedar penghargaan sepintas.

Untuk itulah, apresiasi warga dan dukungan pemerintah sangat dibutuhkan untuk melestarikan grup ketoprak di tengah ragam kesenian negeri ini. Pemerintah hendaknya memberikan ruang apreasiasi tinggi pada kelangsungan hidup grup ketoprak, dengan membangun ruang kesenian dan mengadendakan pertujukan resmi secara kontinyu. Ruang budaya seperti Taman Budaya Raden Saleh (Semarang), Bentara Budaya Jogjakarta, dan Taman Budaya Jawa Tengah (Solo) hendaknya dibangun di setiap daerah. Agenda kreatif wartawan Jogjakarta yang mementaskan ketoprak di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogya (TBY) pada 26 Pebruari 2008 lalu, dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) menjadi titik penting untuk mensosialisasikan ketoprak dalam panggung kehidupan masyarakat.

Pertunjukan resmi kesenian ketoprak atas prakarsa pemerintah daerah akan memberikan kesejukan bagi penggiat kesenian ketoprak. Dengan demikian, publik akan lebih mengenal ketoprak sebagai kesenian yang memanggungkan kearifan dan nilai-nilai etika kehidupan. Apresiasi warga dan dukungan pemerintah inilah, yang menjadikan grup ketoprak di Jogjakarta , Solo, Semarang , Pati, Kediri dan Tulungagung serta daerah lain senantiasa berdenyut dalam jantung kehidupan negeri ini.
                                            Punokawan : SEMAR ,Gareng,Petruk,Bagong
Mau yang lain :





Silsilah Kurawa dan Pandawa : Bagaiman silsilah terjadinya  Keluarga Kurawa dan Pandawa : 

BAGAN SILSILAH KELUARGA PANDAWA DAN KURAWA
Silsilah
Keterangan :

2 komentar: